Dendam si BEDU

Matahari terasa tepat di atas kepala. Lonceng sekolah berbunyi tiga kali, tanda usai aktivitas belajar-mengajar hari ini. Si Bedu dan teman-temannya dengan tertib meninggalkan kelas. Setelah keluar melewati gerbang sekolah, siswa kelas 4 SD ini mampir sejenak ke penjual es susu kacang. Sisa uang sakunya masih cukup untuk membeli sekantong plastik es susu kacang. Sambil berjalan pulang dia menikmati es susu kacangnya. Hmmhh… segar, dahaga pun hilang.

Dia pulang bersama dua orang teman sekelasnya, Andi dan Choki, sambil bercanda-ria. Sampai di pertigaan jalan mereka berpisah untuk menuju rumah masing-masing. Andi dan Choki ke arah kanan, sementara si Bedu ke arah kiri.

Sebelum sampai di rumahnya, dia melewati beberapa kendaraan yang parkir berbaris, dan di tiap bagian depan kendaraan tersebut dipasangkan bendera kuning yang terbuat dari kertas minyak. Di dalam setiap kendaraan sudah banyak orang mengisi tempat duduknya. Di antara orang-orang tersebut sebagian besar adalah para tetangganya. Wah…siapa yang meninggal ya? tanyanya dalam hati.

Kebetulan dia melihat teman mainnya, si Udin yang berada tak jauh darinya. Dihampirinya si Udin, “Din, siapa yang meninggal?” tanya si Bedu

“Kakeknya si Amat, Du,” jawab si Udin.

“Kapan meninggalnya?” tanya Bedu lagi.

“Kata orang-orang sih… tadi pagi.”

“Kapan dikuburnya, Din?”

“Kayaknya sebentar lagi deh.”

“Kamu mau ikut ngantar enggak, Din?” Udin meggelengkan kepala. “Kenapa?” tanya Bedu lagi. “Udah penuh…pasti enggak boleh sama orang-orang di sana,” jawab Udin sambil menunjuk ke arah orang-orang yang berada di kendaraan.

“Kalo aku sih mau ikut ah…aku pulang ya, Din, salin baju dulu!” Bedu pamit sambil berlari menuju rumahnya.

Setelah sampai di depan rumah, dia memberi salam. Si ibu yang berada di dalam rumah menjawab salamnya. Bedu menghampiri ibunya dan mencium tangannya. Setelah melepas tas dan sepatunya, dia bergegas menuju kamarnya untuk ganti pakaian.

“Mau kemana, Du? Koq buru-buru sih?” ibunya bertanya.

“Mau ikut ngantar kakeknya si Amat ke pemakaman,” jawab bedu sambil berlari keluar.

“Eh, jangan Bedu…jangan ikutan!” larang ibunya, tapi si Bedu udah hilang dari pandangannya.

Sesampainya di sana, dia melihat semua kendaraan sudah dipenuhi orang yang ikut mengantar. Di bangku depan ambulan tampak si Amat dipangku oleh ayahnya, wajahnya nampak sedih.

Dia juga melihat teman-teman sebayanya yang mau ikutan, tapi enggak berani naik, takut enggak diperbolehkan oleh orang-orang dewasa yang berada di kendaraan. Mereka hanya menyaksikan saja.

Bedu menuju kendaraan pertama yang berada di belakang ambulan. Dia mencoba naik. Tapi…baru saja kakinya menginjak lantai kendaraan sepasang tangan dari arah belakang memeluk dan menurunkannya seraya berkata, “Eh, anak kecil, enggak boleh ikut ya!”

Si Bedu mengenali orang itu, Pak Acang, bapaknya si Wawan teman mainnya.

Dia tidak menyerah. Dicobanya kendaraan kedua. Lagi-lagi mengalami hal yang sama. Kali ini yang melarangnya Pak Abas, pemilik warung sembako di sebelah rumahnya.

Dia masih belum menyerah. Dicobanya lagi kendaraan ketiga. Lagi-lagi hal yang sama dia alami. Dicobanya kendaraan keempat sampai yang terakhir, kendaraan ketujuh, sama saja, dia tidak diperbolehkan ikut.

Perasaan kesal menggumpal di hati si Bedu, kenapa orang-orang itu melarangnya ikut? padahal kan aku ingin sekali ikut mengantar, dasar enggak punya perasaan!

Saat iring-iringan kendaraan mulai berjalan untuk mengantar jenazah ke pemakaman… si Bedu berkata sambil berteriak dengan kesalnya kepada orang-orang yang berada di kendaraan, “Awas ya kalian semua… kalo nanti kakek Bedu meninggal, semuanya enggak Bedu ajak…!!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s